RSS
Facebook
Twitter

Tampilkan postingan dengan label gejolak puitis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gejolak puitis. Tampilkan semua postingan

Beranda Sore

Angin di sore ini terlihat lebih mesra mengelus dada ketimbang hari-hari kemarin yang terlalu sibuk dengan aktifitas..
Matahari pun lebih bersahabat dan tidak menyengat..
Lalu ada suara adzan yang mengumandang memanggil jiwa-jiwa yang muram..
Ada juga seorang anak yang bermanja-manja kecil di pangkuan paha ibunya..

Ya, temaram sore ini sepertinya menunjukkan irama yang berintonasi merdu, seolah-olah menghadirkan simfoni yang indah di tengah hiruk pikuk ibukota..

Di beranda sore ini aku menikmati hidup seperti manusia lainnya




Terlantang akan sebuah suara tentang negeri ini…
Harus kemana lagi kaki ini melangkah…
Percaya dan berjalan diantara kebusukan hukum negeri ini…
Atau memang harus menepi…
dan melihat ketidakadilan menimpa saudara kami…
kami hanya dibodohi dengan ocehan mereka…
kami hanya disuapi dengan sarapan kemandulan…
Buat kami mereka adalah sampah…
Yang menggenang di negeri ini…
Mereka semua adalah hantu…
yang bergentayang di negeri ini…
Mereka mengoceh yang seakan menuntut kebenaran…
Padahal mereka hanya membual untuk menutupi kebiadaban…

Setangkup Haru Dalam Rindu

Risalah yang awalnya hanya membuat gelisah…Sekarang bertabur rindu dan semakin belenggu..Membuat si sepelupuk mata semakin basah..

Karena air yang menggenang terlalu berasa…

Bertanya rindu..jelas saya rindu..
saya butuh belaian yang dulu pernah menjamah..
bukan nafsu atau syahwat yang bicara..
tapi karna cinta yang meraba..

Saya pun rindu..
dimana saya dapat duduk bersama..
menikmati lantunan lagu berirama..
tanpa harus menggeleng-gelengkan kepala..

Dan semakin merindu..
ketika saya bisa bercengkrama..
tanpa harus bersenggama..
atau apalah namanya..

Ya Allah..
sampai kapan dosa ini mengalir deras..
rasanya sekeras batu yang sulit di entas..
atau selembut rambut kemaluan..
yang sudah mulai dipertanyakan..

Saya sadar..
sesadar-sadarnya..

Seakan selalu amnesia..
Saya selalu mengulangi dosa yang sama..
hanya waktu dan peran yang berbeda..
Sekali lagi saya sadar sesadar-sadarnya..

astagfirullahaladzim

Bulan Redup Renyap


Yang pernah plesir dihati

Sebongkah cahaya bulat besar bersinar diantara pijar-pijar kecil malamku…

Ku hanyut dalam temaram sinarnya…
Yang terus bersemayam dan mendekapnya..

Lukisan malam itu indah yang diciptakan dengan sempurna melalui kanvas kebesaranNya di atas langit yang kokoh…
Membiaskan sedikit sinar namun mampu menerangi pelita yang muram…

Semua itu kulihat dari kejauhan…
akupun jadi terpikat dan ingin melihatnya lebih dekat,dan menyapanya hingga menyentuh dan mengambilnya dalam genggam erat..

Akhirnya ku dapat meraih..menggenggamnya..dan merasakannya lebih dekat..
ternyata bulan tak seindah yang tampak dari kejauhan..
ku lihat lagi lebih dekat..ia nampak bersinar karena diantara redup-redup kecil para kawanan bintang saja…
Terang biasa,permukaannya pun tak rata, cahaya putihnya tak merona,kilauannya sempat menyilaukan mataku saat dia menduakannya bersama cahaya mataharinya…

Namun pernahkah ku berpaling dan pikirkan itu ketika ku menatapnya?Ku hanya terkagum pada cahaya terangnya yang indah tanpa mengingat hempasan bongkahannya yang pernah menghujamku…

Selama ini ku hanya memandang kearah langit malam bersama keindahan cahaya bulannya saja..ku tak perdulikan kerlingan-kerlingan manja para bintang, tak pula perhatikan pekatnya malam yang terlukis tebal.

  • Blogroll