RSS
Facebook
Twitter

Kesederhanaan Bukan Berarti Keterbelakangan


Suatu hari yg cerah di negeri kaya dan makmur.., berhias tawa anak penerus bangsa dalam balutan seragam rapinya
Hari yg sama ditempat berbeda, sekumpulan anak di bangunan yg mereka sebut sekolah,berpakaian yg mereka sebut seragam 

Didukung fasilitas transportasi lengkap, mereka pergi ke tempat mencari ilmu
Di tempat berbeda, ada pejuang-pejuang kecil yg berjalan ke tempat belajarnya sejak matahari masih sejengkal

Hari itu, mereka ke sekolah dengan alas sepatu paling baik diantara deretan yang terbaik yang mereka punya


Namun lagi-lagi ditempat lain, ada yang memilih bertelanjang kaki dibanding memakai sepatu bolong yg telah sempit

"Seakan berbeda dunia padahal mereka berpijak di bumi yang sama, entah sekat apa yang menjadi jurang pemisah antara mereka yang bernasib baik dengan yang tidak. Tidak ada satupun dari mereka yang ingin terlahir seperti itu, kita yang beruntung maka marilah kita selaraskan ke kontarasan ini, agar tatanan dunia menjadi seimbang dan satu sama lain saling melengkapi." j'sgi

Aksi Cepat Tanggap

Aksi Cepat Tanggap

@ACTforhumanity

Official Account of Aksi Cepat Tanggap (ACT) | Lembaga Kemanusiaan; Mandiri: 1010004802482 | BCA: 6760303133 | BNI:0140765481 BRI 038201000222303 a/n ACT.




Ke GEDEan Kartini Day


Klik untuk memperbesar

Banyak perjalanan yang bermuara pada tujuan yang sama yaitu mencetak pengalaman, pembedanya hanya cara kita mengeksplorasinya menjadi kenangan yang manis atau tidak saat dikenang esoknya.

Terminal Kampung Rambutan, pkl 22.00
Tunaikan kewajiban dulu lalu setelah itu kita boleh menuntuk hak, seperti itulah yang biasa disampaikan para ahli ulama di tipi-tipi swasta yang saya dengar..begitupun halnya dengan kewajiban saya sebagai mahasiswa abadi untuk menunaikan kewajiban mengikuti kuis pada malam sebelum keberangkatan ke Gede. Dengan cemas takut akan ketinggalan Bis, waktu menunjukkan pukul 22.00 saya berangkat dari Radio Dalam menuju Condet untuk bertemu pasukan lainnya yang ingin naik gunung juga. Setelah tiba di Condet kami langsung bergegas menuju terminal Kampung Rambutan dengan menaiki mobil Pickup bersama kurang lebih 16 orang plus carrier bawaannya yang kira-kira seukuran karung beras..sempit sudah pastinya dan mencekam tentunya, bisa dirasakan kan bagaimana sensasinya..:D

Persiapan sebelum naik, gunung putri pkl 04.00
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, begitulah tulisan yang terlihat lumayan berukuran besar melingkari jalan setapak saat saya sampai, walaupun ini untuk kedua kalinya saya melipir kesini tapi masih saja terasa asing bagi saya, maklum terakhir saya menginjak bebatuan ini sekitar delapan tahun yang lalu.


Menyelusuri hutan
"Dan antara ransel - ransel kosong dan api unggun yang membara aku terima ini semua
melampaui batas - batas hutanmu, melampaui batas - batas jurangmu.
Aku cinta padamu Pangrango. Karena aku cinta pada keberanian hidup."

-Soe Hok Gie-

pkl 12.20
Ketika langkah terhenti oleh nyanyian perut yang semakin mengerucut, kami istirahat untuk memakan makanan seadanya untuk mengisi amunisi tenaga yang sudah habis setelah berjalan vertikal sebelumnya kurang lebih empat jam, dan kami baru dalam setengah perjalanan.

Alun-alun Surya kencana
"Bukan kualitas lidah tentang apa yang kita ucap, atau tentang telinga dengan apa yang kita dengar, tetapi tentang mata bagaimana kita memandang keindahan bunga edelweis atau hamparan hijau yang merambati bukit." J'soegi

Setelah berfoto-foto menikmati surya kencana kami mendirikan tenda di sekitar alun-alun barat surya kencana.
 
Ngecamp di suya kencana
Tersenyumlah, walau hanya secangkir air yang diteguk..di dalam hangatnya tenda kita bersama merintih dalam kebekuan padang Surya Kencana

 Dan malam harinya kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju puncak sekitar pukul 22.00. Di dalam perjalanan menuju puncak sangat terasa berat sekali, sesekali kita harus berhenti melangkah untuk mengatur pernapasan karena kami harus berebut oksigen dengan tumbuhan di hutan ini (karena Pada malam hari, ketika tumbuhan tidak mendapatkan cahaya yang cukup untuk berfotosintesis dan mengubah CO2 menjadi O2, maka tanaman akan mengambil O2 untuk respirasinya sendiri...Jadi dengan kata lain, kita berebut oksigen dengan si tumbuhan tersebut) Hari pun sudah berganti setelah detik melewati pukul 00.00 barusan, dan tanggal 21 April sudah kami tepat berada di Puncak Gede, itu artinya tepat 134 tahun yang lalu Ibu kita Kartini lahir, dan diperingati sebagai lahirnya gerakan emansipasi perempuan di Indonesia.

21 April, Puncak Gede
Banyak juga perempuan-perempuan atau kartini modern yang ikut mendaki, entah ada yang dalam moment Kartinian ataupun memang mendaki saja karena memang sudah menjadi kebiasaan dalam komunitasnya. Sayang saya tak sempat memotretnya karena baterai sudah terlanjur habis, tetapi saya sempat mendokumentasikannya dalam bentuk video melalui handycam yang saya bawa, berhubung belum rampung editingnya jadi belum bisa di upload, nanti sesekali waktu saya akan mengerjakannya.

Huru Haru Bromo Tengger Semeru #Video

Bukber Pondok Labu 2011






Kenapa Saya Naik Gunung?


Kenapa harus naik gunung? lalu dimana letak kepuasannya? Kenapa saya harus rela membawa tas besar mungkin seukuran karung beras dan harus berjalan vertikal berkilo-kilo meter menuju puncak? kenapa saya rela menghabiskan malam berselimut embun di dalam tenda atau bersusah payah merangkak terjal bebatuan dan mengambil resiko tersesat di gelapnya hutan rimba?Di gunung kita akan meninggalkan semua yang membuat kita nyaman, fisik, mental semua terkuras lebih dari biasanya, padahal dengan tidur nyaman di rumah atau berpergian yang lebih aman pun bisa saja saya lakukan.


Sudut pandanglah yang membuat jurang perbedaan antara pemikiran saya dan mereka-mereka yang menganggap plesiran saya ini hanya buang-buang waktu dan energi saja bahkan membahayakan nyawa, banyak hal yang membuat saya merasakan makna dari naik gunung, saya merasa menemukan  keindahan, kedamaian, dan ketenangan. Baik suasana yang dirasakan secara fisik maupun suasana hati yang ikut merasakan

Saya tekankan bahwa di gunung kita akan mengerti tentang arti hidup sesungguhnya karena dalam hidup ada yang lebih berharga selain uang dan karir, disini kita akan hilangkan kesetaraan tidak peduli siapa kita diluar sana, entah itu jabatan, golongan, ras maupun agama.Di sini kita menjadi sama, berdiri di atas bumi yang sama dan berlutut di bawah langit yang sama sebagai makhluk Tuhan yang kecil.

Di gunung kita belajar tentang kebersamaan, lebih dapat memahami dan semakin sadar bahwa kita memang diciptakan sebagai makhluk sosial.Segala sifat individualisme yang menjadi pemicu kurangnya toleransi dan kepekaan terhadap sesama itu akan hilang,  saat diri kita membutuhkan uluran tangan ketika tersandung dari bebatuan atau kelaparan kehabisan pangan bahkan sampai tersesat dan membutuhkan manusia lainnya untuk memberi tahu jalan.Di situlah kita semakin sadar bahwa kita sangat membutuhkan orang lain dalam hidup, karena kita makhluk sosial.

Kita pun belajar bahwa diperlukan sebuah perjuangan dan proses untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, disini salah satunya mencapai puncak lah yang membuat saya sangat klimaks, melihat hamparan atau bukit yang berbaris diantara hijau-hijau pohon yang rindang setelah melewati proses yang sulit untuk mencapainya dan tentunya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, karena bukan kualitas lidah atau perspektif dari sudut memandang kita menilainya, tapi dari bentuk syukur atas kebesaran Sang Pencipta, yah disini mengajarkan saya bahwa untuk mencapai  kesuksesan dan kebahagiaan memang tidak ada jalan yang instan, sama halnya dengan hidup kita harus melalui proses yang panjang dan butuh perjuangan untuk mencapai apa yang kita inginkan..

Setelah pulang dari gunung saya pun menjadi sedikit lebih religius, karena disana, dipuncak gunung. Ya, cuma disana saya bisa merenung. Menangisi diri yang ternyata kita tidak ada apa-apanya dengan kemegahan alam ciptaanNya. Menangisi ego, keserakahan dan keangkuhan diri. Disana, manusia itu hanya secuil debu. Disana saya cuma bisa berdiam diri, tertunduk malu.

"Seorang yang mencapai puncak gunung, menjadi saksi atas keindahan semesta, tidak bisa ia tidak berfikir tentang kebesaran Tuhan."



  • Blogroll