RSS
Facebook
Twitter

Napak Tilas Sepuluh Bulan Sebelas

Ada hangat yang tiba-tiba hadir di kelopak mata, berkaca-kaca mendengarkan kisah demi kisah para veteran negeri ini dalam sebuah tayangan TV, dengan badan renta terkujur lusuh duduk di kursi menunggu detik-detik terakhir rumah mereka disita/digusur.

Hidup dalam tidak ketentuan. Masih berharap dikenal sebagai mana mestinya seorang pejuang bangsa . Hidup dalam ketidak pastian. Nasibnya tidaklah berbeda dengan para manula - manula lainnya yang ditinggal pergi anak - anaknya,  sebagian hidup di panti jompo karena tidak mampu membiayai hidup, sebagian lagi mengais apapun yang bisa mereka tukar menjadi sesuap nasi. Tak peduli betapa tidak cocoknya antara pakaian dan perjuangan mereka kini. Yang justru berakhir dipinggir jalan yang nasibnya tidak jauh seperti gelandangan. 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Begitulah kata Bung Karno

 Silam, seorang lelaki tua yang tinggal di Desa Pelang, Kecamatan Kembangbahu, Lamongan Jawa Timur. Ia menjadi tukang sapu di gereja dan Balai Desa Pelang. Untuk pekerjaannya itu ia mendapatkan upah sebesar Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per bulan.

Samsuri, seorang veteran kemerdekaan yang sudah berusia 91 tahun ini terpaksa harus mengetuk pintu-pintu kantor untuk menyambung hidupnya. Meskipun sudah tua, langkah Samsuri terlihat masih tegap. Sikap dan atributnya masih sama seperti saat dia aktif sebagai pejuang di front Ambarawa, Jawa Tengah. Namun, dia kini tak lagi memanggul senjata. Pria tua ini kemana-mana membawa sejumlah barang dagangan, seperti permen jahe dan jamu-jamuan. Dia terpaksa mengumpulkan rupiah demi rupiah karena tunjangan pensiunnya tak seberapa. Samsuri masih memiliki patriotisme. Dengan caranya sendiri dia mengingatkan arti perjuangan kemerdekaan

Inilah jalan hidup sebagian para veteran perang setelah melawan penjajah. Kemerdekaan bagi mereka belumlah usai. Mereka bukan lagi berperang melawan penjajah tetapi mereka harus berperang melawan kebutuhan perut dan usia yang terus menua dengan pasti. Kisah nyata di atas hanyalah beberapa potret para veteran. Masih banyak lagi nasib para veteran perang yang harus berjuang melawan nasib di tengah usianya yang sudah melebihi dari separuh abad.
Mereka tidak mendapatkan penghargaan dan kehidupan yang layak meski di masa lalu telah mempertaruhkan nyawa untuk kemerdekaan. Kita sangat berharap pemerintah memperdulikan nasib para veteran perang yang sangat memilukan ini.


 Veteran Amerika

Mereka diberikan tempat yang layak untuk menghabiskan sisa hari tua
Mereka diberikan santunan dana serta jaminan kesehatan
Mereka diperlakukan bak seorang pahlawan dilingkungan tempat tinggalnya
Yang Telah Gugur
Ya Allah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Sesungguhnya kami telah yakin dengan sepenuh hati bahwa Engkau senantiasa melimpahkan kasih-sayang-Mu kepada hamba-Mu. Memerdekakan kami dari senjata-senjata penjajah melalui tangan-tangan bersimpuh darah para pahlawan kami.
Dengan penuh ikhlas dari lubuk hati kami yang terdalam, kami memohon kepada-Mu, ampunilah dosa dan kesalahan para Pahlawan kami, tempatkanlah mereka disisi-Mu ya Allah, muliakanlah kedatangan mereka disisi-Mu, sebagai syuhada’ yang telah gugur dimedan perang. Dengan semangat juang mereka telah mengorbankan jiwa, raga dan harta demi memerdekakan kami, amin.

Simak Pidato yang Berkobar-kobar ini !

Launching Kanal KPK_ Bundaran HI

Souvenir dari KPK

Bersama pemimpin KPK,  Bambang Widjayanto

Sepanggung bareng Melanie Subono



GerakanBerbagi_Yayasan SayapIbu

Saat-saat perayaan ultah Berti

Mba Ina memberi kue ultah kepada Berti yang berulang tahun ke 10
Suasana kamar putri, cerah dan ceria sekeliling dindingnya namun penuh kekhawatiran para penghuninya


Anggie mencoba menenangkan salah satu pasien tetapi apa yang terjadi justru sebaliknya..hhmm..


"Devan, penderita hydrochepalus yang juga autistik, tatapan matanya menembus kalbu. Ia tak mengeluarkan kata-kata, tapi tatapan tajam mata nya seolah berbicara dari jeruji kayu yg mengurungnya", gerakanberbagi.com
Salam senyum dari kami buat adik-adik semua semoga tabah dalam menjalani dan selalu diberikan keberkahan hidup, dunia hanya setetes air dari telunjuk kita sedangkan laut lah akhiratnya.


Dan tidak lupa kecupan manis dari Devan untuk Mba Ina (penggagas Gerakan Berbagi)

Bukber Hj.Nawi 2013








Kontras "Go Rights" Taman Menteng 30 Juni 2013

Donasi Buku untuk papua oleh memberikan Hak Asasi baca bagi masyarakat Papua.
@bengkelkardus coba-coba recycle sampah jadi barang seni? Cobain kardus aja. #GoRights pic.twitter.com/h4bDrTu7n3
ngajak adik-adik makan bersama dan bermain di taman menteng :)



Ayam Jantan Dari Timur Penebas Koruptor

Setiap tokoh ada masanya dan setiap masa ada tokohnya, begitu menurut kutipan buku yang saya baca dengan judul Abraham Samad yang ditulis oleh Zaenuddin HM, seorang wartawan senior harian surat kabar Rakyat Merdeka.
Karya Zaenuddin HM
Mengulas tentang tokoh yang saya baca di buku ini mengingatkan saya akan sosok ke pahlawanan seorang Sultan Hasanudin yang notabane merupakan sama-sama berasal dari daerah Makassar. Selain itu kedua tokoh merupakan sosok yang gigih dalam berperang, tentu bebeda dalam masa dan peperangannya, kalau dulu Sultan Hasanudin berperang melawan penjajah dengan senjata lain halnya dengan Abraham yang berperang melawan bangsa sendiri (koruptor) tanpa senjata, memang ternyata lebih mudah mengusir penjajah ketimbang membasmi koruptor dari negeri ini, terbukti Indonesia termasuk negara yang tingkat korupsinya sangat memprihatinkan dan tak kunjung membaik dari tahun ke tahun, sampai saat ini (2012) berada dalam peringkat kelima dari 146 negara di dunia, sungguh bukan prestasi yang sangat membanggakan.

Terlepas dari semua itu di tangan Abraham Samad-lah nasib bangsa saat ini bergantung dalam upaya pemberantasan korupsi, siapa Abraham Samad itu, beliau merupakan seorang advokad di makasar, namanya pun belum sampai di jakarta, kalah tenar dengan calon-calon ketua KPK lainnya, tapi fakta berkata lain dan membuat banyak orang tidak percaya dia menang telak atas pesaing-pesaingnya dengan terpilih menjadi ketua KPK termuda periode 2011-2015 setelah mendapatkan 43 suara, seorang jiwa muda, visioner dan bernyali besar, terkenal galak, bengis dan tak kenal kompromi dan dia pernah masuk ke ruangan DPRD dan membakar dokumen APBD ketika masih menjadi aktivis di Makassar, lalu apakah sekarang masih punya nyali berhadapan dengan politisi-politsi di Senayan tentunya dengan tantangan yang lebih besar ?hanya beliau yang tahu. Track record lainnya ketika di Makassar Abraham Samad mendirikan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bernama Anti Coruption Committee (ACC).

"Sejak dilantik menjadi ketua KPK, nyawa ini sudah saya wakafkan di jalan ALLAH" - Abraham Samad .

Berbagai ancaman berupa teror, di aniaya, diculik hhingga nyawanya dihabisi merupakan sarapan pagi bagi ketua korupsi ini. Abraham memang berani dan bernyali besar dia bahkan bahkan pernah berujar bahwa dia tidak takut sama sekali dengan manusia apalagi koruptor beliau hanya takut kepada Sang Khalik, tandasnya. Memang Abraham boleh saja menyatakan tidak gentar, tetapi tidak juga boleh menutup mata terhadap kemungkinan resiko terburuk, seperti halnya resiko-resiko yang saya baca di buku ini adalah:
* Awas Isu dan Hasutan
* Teror SMS atau Telepon
* Jebakan Uang
* Pelemahan lewat UU oleh DPR
* Awas Di Lopa-kan
* Awas Di Munir-kan
* Awas Di Antasarikan (baca selengkapnya di buku karya Zaenuddin HM)

Kapur tulis Abraham Samad, Kesetiaan dan Uang Temuan Saya

Semua orang mempunyai masa lalu dan selalu tertanam sampai sekarang apa yang masa lalu ajarkan kepada kita.
Dia mengenang,  ketika kecil dirinya pernah membawa pulang kapur tulis sekolah ke rumah.

"Dulu saya ingat waktu kelas satu SD, pakai kapur tulis. Dulu pulang sekolah banyak anak yang ambil kapur dan dibiarkan guru karena dianggap tidak penting," kata Abraham pada peluncuran buku anak "Tunas Integritas" di Indonesia Book Fair 2012 di Istora Senayan, Jakarta, Senin.

Saat itu tidak ada guru yang melarang, tambah dia, padahal murid tidak berhak membawa properti sekolah ke rumah.

Pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan pada 27 November 1966 itu pun tak menyangka dilarang sang ibu membawa kapur tulis. Bahkan ia diminta mengembalikan kapur tulis berwarna putih itu

"Ini bukan barang milik kamu. Besok, kalau kamu ke sekolah, kembalikan!" ujar Abraham yang meniru ucapan ibunya lagi.

Saya pun jadi teringat ketika saya kecil saat menemukan uang selalu dimarahi oleh ibu, dan melarang untuk mengambilnya, ibu saya berkata bahwa jika uang yang kamu ambil itu nanti suatu saat kamu akan kehilangan uang juga dengan nilai kelipatan dua kali lebih banyak dari uang tersebut, contoh 50 rupiah menjadi 100 rupiah dan seterusnya, Terlepas dari mitos atau apapun namannya intinya adalah sebuah pesannya. Bayangkan itu sudah puluhan tahun yang lalu tapi hal ini masih sangat membekas di pikiran saya, karena apa yang tertanam di masa kecil akan berbuah di masa depan dan poinnya adalah bahwa seseorang tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan haknya. "Ini sebenarnya sepele, tapi membekas di diri kita dan menjadi sebuah proses pembentukan karakter nantinya."

Dan bicara tentang kesetiaan saya sendiri mungkin mempunyai kesamaan secara emosional dengan beliau, saya hidup di lingkungan kesetiaan, munafik rasanya bila di tanya tentang kesetiaan bagi kaum adam, tapi saya ingin menjelaskan latar belakang saya dulu, saya ditinggal oleh ayah saya ketika berumur 3 tahun, sedangkan Abraham berumur 8 tahun, dan tentunya ibu kami berdua masih sangat muda pada waktu itu dan kalau sekarang kita lihat wanita yang seusia itu  zaman sekarang tentu belum tua, nah yang saya kagumi dari ibu saya adalah dia tidak menikah lagi setelah ditinggal oleh suaminya. Dari situlah Abraham Samad belajar kesetiaan termasuk saya walau masih banyak kekurangan. Dan satu hal lagi bukan berarti wanita yang ditinggal oleh suaminya lalu menikah lagi itu salah, semua kembali ke zaman dan situasinya.
 
Imbalan Setimpal Atas Nyawa Taruhannya

 1. Gaji pokok

Ketua KPK : Rp 5.040.000 (lima juta empat puluh ribu rupiah)
Wakil ketua KPK : Rp 4.620.000,00 (empat juta enam ratus dua puluh ribu rupiah)

2. Tunjangan Jabatan

Ketua KPK : Rp 15.120.000,00 (lima belas juta seratus dua puluh ribu rupiah)
Wakil Ketua KPK : Rp 12.474.000,00 (dua belas juta empat ratus tujuh puluh empat ribu rupiah).

3. Tunjangan Kehormatan

Ketua KPK : Rp 1.460.000,00 (satu juta empat ratus enam puluh ribu rupiah)
Wakil Ketua KPK : Rp 1.300.000,00 (satu juta tiga ratus ribu rupiah).

4. Tunjangan Perumahan:

Ketua : Rp23.000.000,00 (dua puluh tiga juta rupiah)
Wakil Ketua : Rp21.275.000,00 (dua puluh satu juta dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah )

5. Tunjangan Transportasi:

Ketua : Rp 18.000.000,00 (delapan belas juta rupiah)
Wakil Ketua : Rp 16.650.000,00 (enam belas juta enam ratus lima puluh ribu rupiah)

6. Tunjangan Asuransi Kesehatan dan Jiwa:

Ketua : Rp2.200.000,00 (dua juta dua ratus ribu rupiah)
Wakil Ketua : Rp2.200.000,00 (dua juta dua ratus ribu rupiah)

7. Tunjangan Hari Tua:

Ketua : Rp5.405.000,00 (lima juta empat ratus lima ribu rupiah)
Wakil Ketua : Rp4.598.500,00 (empat juta lima ratus sembilan puluh delapan ribu lima ratus rupiah)

Dengan demikian, total gaji yang diterima seorang ketua KPK yakni Abraham Samad adalah Rp 70.225.000,00, sementara para wakilnya mendapat Rp 63.117.500,00.
sumber: detikNews : Mau Tahu Gaji Abraham Samad Cs? Ini Dia Daftarnya



Beranda Sore

Angin di sore ini terlihat lebih mesra mengelus dada ketimbang hari-hari kemarin yang terlalu sibuk dengan aktifitas..
Matahari pun lebih bersahabat dan tidak menyengat..
Lalu ada suara adzan yang mengumandang memanggil jiwa-jiwa yang muram..
Ada juga seorang anak yang bermanja-manja kecil di pangkuan paha ibunya..

Ya, temaram sore ini sepertinya menunjukkan irama yang berintonasi merdu, seolah-olah menghadirkan simfoni yang indah di tengah hiruk pikuk ibukota..

Di beranda sore ini aku menikmati hidup seperti manusia lainnya




Ada Cerita Di Carita








Donna Donna Donna

On a Weagon bound the market
There’s a calf with a mournful eye
High above him there’s a swallow
Winging swiftly through the sky

How the winds are laughing
They laugh with all they might
Laugh and laugh the whole day through
And half the summers night

(Chorus)
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don

“Stop complaining!” Said the farmer
Who told you a calf to be?
Why don’t you have wings to fly with
Like the swallow so proud and free?

Calves are easily bound and slaughtered
Never knowing the reason why
But whoever treasures freedom
Like the swallow has learned to fly



Di sebuah gerbong yang membatasi pasar
Ada seekor anak sapi dengan mata yang berduka.
Jauh tinggi diatasnya ada seekor burung layang layang,
mengepakkan sayap dengan cepat melintasi angkasa.
Betapa angin angin itu tertawa,
mereka tertawa sekuat mereka.
Tertawa dan tertawa sepanjang hari,
serta separuh malam musim panas.
Donna Donna Donna Donna,
Donna Donna Donna Don,
Donna Donna Donna Donna,
Donna Donna Donna Don.
“Berhentilah mengeluh!”,kata si Petani.
Siapa suruh jadi anak sapi?
Kenapa tak kau punyai sayap untuk terbang?
Seperti burung layang layang, sangat bangga dan bebas.
Anak anak sapi mudah diikat dan dibunuh
tanpa tahu alasannya
Tapi siapapun yang mencari kebebasan,
seperti burung layang layang, harus belajar terbang.

Kesederhanaan Bukan Berarti Keterbelakangan


Suatu hari yg cerah di negeri kaya dan makmur.., berhias tawa anak penerus bangsa dalam balutan seragam rapinya
Hari yg sama ditempat berbeda, sekumpulan anak di bangunan yg mereka sebut sekolah,berpakaian yg mereka sebut seragam 

Didukung fasilitas transportasi lengkap, mereka pergi ke tempat mencari ilmu
Di tempat berbeda, ada pejuang-pejuang kecil yg berjalan ke tempat belajarnya sejak matahari masih sejengkal

Hari itu, mereka ke sekolah dengan alas sepatu paling baik diantara deretan yang terbaik yang mereka punya


Namun lagi-lagi ditempat lain, ada yang memilih bertelanjang kaki dibanding memakai sepatu bolong yg telah sempit

"Seakan berbeda dunia padahal mereka berpijak di bumi yang sama, entah sekat apa yang menjadi jurang pemisah antara mereka yang bernasib baik dengan yang tidak. Tidak ada satupun dari mereka yang ingin terlahir seperti itu, kita yang beruntung maka marilah kita selaraskan ke kontarasan ini, agar tatanan dunia menjadi seimbang dan satu sama lain saling melengkapi." j'sgi

Aksi Cepat Tanggap

Aksi Cepat Tanggap

@ACTforhumanity

Official Account of Aksi Cepat Tanggap (ACT) | Lembaga Kemanusiaan; Mandiri: 1010004802482 | BCA: 6760303133 | BNI:0140765481 BRI 038201000222303 a/n ACT.




Ke GEDEan Kartini Day


Klik untuk memperbesar

Banyak perjalanan yang bermuara pada tujuan yang sama yaitu mencetak pengalaman, pembedanya hanya cara kita mengeksplorasinya menjadi kenangan yang manis atau tidak saat dikenang esoknya.

Terminal Kampung Rambutan, pkl 22.00
Tunaikan kewajiban dulu lalu setelah itu kita boleh menuntuk hak, seperti itulah yang biasa disampaikan para ahli ulama di tipi-tipi swasta yang saya dengar..begitupun halnya dengan kewajiban saya sebagai mahasiswa abadi untuk menunaikan kewajiban mengikuti kuis pada malam sebelum keberangkatan ke Gede. Dengan cemas takut akan ketinggalan Bis, waktu menunjukkan pukul 22.00 saya berangkat dari Radio Dalam menuju Condet untuk bertemu pasukan lainnya yang ingin naik gunung juga. Setelah tiba di Condet kami langsung bergegas menuju terminal Kampung Rambutan dengan menaiki mobil Pickup bersama kurang lebih 16 orang plus carrier bawaannya yang kira-kira seukuran karung beras..sempit sudah pastinya dan mencekam tentunya, bisa dirasakan kan bagaimana sensasinya..:D

Persiapan sebelum naik, gunung putri pkl 04.00
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, begitulah tulisan yang terlihat lumayan berukuran besar melingkari jalan setapak saat saya sampai, walaupun ini untuk kedua kalinya saya melipir kesini tapi masih saja terasa asing bagi saya, maklum terakhir saya menginjak bebatuan ini sekitar delapan tahun yang lalu.


Menyelusuri hutan
"Dan antara ransel - ransel kosong dan api unggun yang membara aku terima ini semua
melampaui batas - batas hutanmu, melampaui batas - batas jurangmu.
Aku cinta padamu Pangrango. Karena aku cinta pada keberanian hidup."

-Soe Hok Gie-

pkl 12.20
Ketika langkah terhenti oleh nyanyian perut yang semakin mengerucut, kami istirahat untuk memakan makanan seadanya untuk mengisi amunisi tenaga yang sudah habis setelah berjalan vertikal sebelumnya kurang lebih empat jam, dan kami baru dalam setengah perjalanan.

Alun-alun Surya kencana
"Bukan kualitas lidah tentang apa yang kita ucap, atau tentang telinga dengan apa yang kita dengar, tetapi tentang mata bagaimana kita memandang keindahan bunga edelweis atau hamparan hijau yang merambati bukit." J'soegi

Setelah berfoto-foto menikmati surya kencana kami mendirikan tenda di sekitar alun-alun barat surya kencana.
 
Ngecamp di suya kencana
Tersenyumlah, walau hanya secangkir air yang diteguk..di dalam hangatnya tenda kita bersama merintih dalam kebekuan padang Surya Kencana

 Dan malam harinya kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju puncak sekitar pukul 22.00. Di dalam perjalanan menuju puncak sangat terasa berat sekali, sesekali kita harus berhenti melangkah untuk mengatur pernapasan karena kami harus berebut oksigen dengan tumbuhan di hutan ini (karena Pada malam hari, ketika tumbuhan tidak mendapatkan cahaya yang cukup untuk berfotosintesis dan mengubah CO2 menjadi O2, maka tanaman akan mengambil O2 untuk respirasinya sendiri...Jadi dengan kata lain, kita berebut oksigen dengan si tumbuhan tersebut) Hari pun sudah berganti setelah detik melewati pukul 00.00 barusan, dan tanggal 21 April sudah kami tepat berada di Puncak Gede, itu artinya tepat 134 tahun yang lalu Ibu kita Kartini lahir, dan diperingati sebagai lahirnya gerakan emansipasi perempuan di Indonesia.

21 April, Puncak Gede
Banyak juga perempuan-perempuan atau kartini modern yang ikut mendaki, entah ada yang dalam moment Kartinian ataupun memang mendaki saja karena memang sudah menjadi kebiasaan dalam komunitasnya. Sayang saya tak sempat memotretnya karena baterai sudah terlanjur habis, tetapi saya sempat mendokumentasikannya dalam bentuk video melalui handycam yang saya bawa, berhubung belum rampung editingnya jadi belum bisa di upload, nanti sesekali waktu saya akan mengerjakannya.
  • Blogroll